Jurnalis Sejati Bisa Memimpin Perang Melawan Deepfake

- 15 Mei 2024, 22:47 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi /360info

Layar Berita - Tahun ini merupakan tahun yang sangat penting bagi demokrasi, dan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, telah menimbulkan kekacauan pada dunia berita yang kesulitan untuk mengatasinya. Perundang-undangan yang cerdas dan proaktif, yang dapat memberikan perlindungan.

Hampir separuh masyarakat di dunia memberikan suaranya pada Pemilu nasional tahun ini dan AI adalah pilihan utama.  Hal ini menimbulkan kekhawatiran nyata, bahwa deepfake yang dibuat atau diedit oleh AI akan berpotensi memanipulasi hasil Pemilu tidak hanya di AS dan Inggris, tetapi juga di negara-negara seperti India .

Oleh karena itu, menurut Alexandra Wake, Associate Professor Jurnalisme di RMIT University dan Presiden terpilih dari Asosiasi Penelitian dan Pendidikan Jurnalisme Australia, kebutuhan akan jurnalis yang terlatih dan mampu menghasilkan pemberitaan yang terpercaya, akurat, dan orisinal menjadi sorotan pada Hari Kebebasan Pers Sedunia (3 Mei) kemarin.

Baca Juga: Krisis Demokrasi Parlementer dan fakta Luar Biasa Politik India

Tahun ini terjadi percepatan penggunaan teknologi AI, yang dapat meningkatkan kampanye politik yang sah, namun juga dapat digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mempengaruhi hasil pemilu. Alat-alat ini, ditambah dengan kurangnya regulasi pada platform media sosial, merupakan kekhawatiran besar bagi siapa pun yang mendukung demokrasi.

Namun bagi kita yang mempersiapkan generasi jurnalis berikutnya, merupakan tantangan untuk lebih meningkatkan keterampilan teknis dan soft skill yang menghasilkan jurnalisme kepentingan publik yang unggul.

Ketakutan yang mendalam

AI telah digunakan selama lebih dari satu dekade di AS, memberikan peringatan gempa bumi otomatis untuk Los Angeles Times . Namun kini metode ini digunakan oleh para jurnalis di ruang redaksi yang jauh lebih kecil, antara lain, untuk menghasilkan penulisan ulang 50 siaran pers secara cepat dalam satu waktu.

Uni Eropa memimpin dalam mengembangkan pedoman etika untuk menangani AI yang “berpusat pada manusia”. Ada tujuh persyaratan yang dianggap penting di UE untuk mencapai AI yang dapat dipercaya. Hal ini mencakup hak pilihan dan pengawasan manusia; ketahanan dan keamanan; kesejahteraan masyarakat dan lingkungan, serta akuntabilitas.

Namun secara global, masyarakat merasa khawatir. Perusahaan perangkat lunak Adobe baru saja merilis Future of Trust Study , yang mensurvei lebih dari 6.000 orang di AS, Inggris, Prancis, dan Jerman tentang pengalaman mereka menghadapi misinformasi online dan kekhawatiran tentang dampak AI generatif.

Halaman:

Editor: Agustiar


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah