Kasus Penggelapan Sepeda Motor di Kejari Bireuen Berakhir dengan Restorative Justice

- 15 Mei 2024, 22:17 WIB
Kasus Penggelapan Sepeda Motor di Kejari Bireuen Berakhir dengan Restorative Justice
Kasus Penggelapan Sepeda Motor di Kejari Bireuen Berakhir dengan Restorative Justice /Dok/Kejari Bireuen

 

Layar Berita - Kepala Kejaksaan Negeri Bireuen Munawal Hadi, didampingi Kasi Pidum Kejari Bireuen Dedi Maryadi, beserta Jaksa Fasilitator melakukan upaya perdamaian atau penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif (RJ), terhadap tindak pidana penggelapan dengan tersangka Z.

Proses perdamaian yang berlangsung di Kantor Kejaksaan Negeri Bireuen, Selasa 14 Mei 2024, dipimpin langsung oleh Kajari Bireuen dan dihadiri oleh pihak keluarga korban, tersangka, dan perangkat gampong.

Kajari Bireuen melalui Kasi Intel Abdi Fikri, mengatakan, perkara tersebut bermula pada Rabu tanggal 17 April 2024 sekira pukul 16.00 WIB, pada saat itu saksi korban berinisial M sedang berada di kios tempatnya bekerja sebagai tukang pangkas rambut. Tiba-tiba datang tersangka Z dengan meminjam sepeda motor milik korban, dengan alasan mau ganti baju karena kehujanan.

Baca Juga: Kejari Bireuen Tetapkan 3 Tersangka Dugaan Kasus Korupsi PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Kota Juang

“Tersangka datang dengan mengatakan ‘bang saya sudah basah kehujanan pinjam sepeda motor sebentar saya mau ganti baju’, kepada korban saat itu,” terang Abdi Fikri.

Pada saat itu, lanjut Abdi Fikri,  saksi korban langsung memberikan sepeda motornya kepada tersangka, namun hingga pukul 22.00 WIB tersangka tidak juga kembali. Lalu saksi korban mencoba menghubungi tersangka, tetapi tersangka tidak menjawab telepon.

Hingga akhirnya, setelah 2 hari berlalu yaitu pada tanggal 19 April 2024, tersangka berhasil ditangkap oleh petugas Kepolisian Polres Bireuen beserta barang bukti sepeda motor milik saksi korban.

Kasus Penggelapan Sepeda Motor di Kejari Bireuen Berakhir dengan Restorative Justice
Kasus Penggelapan Sepeda Motor di Kejari Bireuen Berakhir dengan Restorative Justice Dok/kejari Bireuen

Perbuatan tersangka Z telah melanggar Pasal 372 KUHP dengan ancaman paling lama 4 tahun penjara. Namun setelah dimediasi oleh Jaksa Fasilitator, tersangka dan korban sepakat berdamai dengan syarat tersangka berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, terang Abdi Fikri.

Lebih lanjut disampaikannya bahwa perkara ini akan diteruskan ke Kejaksaan Tinggi Aceh untuk menunggu ekspose bersama JAM Piduk, agar disetujui penghentiannya.

Sejak awal tahun 2024 hingga saat ini, Kejari Bireuen telah berhasil melakukan Restorative Justice (RJ) sebanyak 7 perkara, terang Abdi Fikri. ***

Editor: Agustiar


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah