Waspadai Musim Hujan dan Banjir! Leptospirosis Diam-diam Mematikan Termasuk di Indonesia

- 22 Mei 2024, 11:56 WIB
Ilustrasi bakteri
Ilustrasi bakteri /pixabay

Layar Berita - Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri berbentuk spiral dari genus leptospira yang patogen. Leptospirosis merupakan zoonosis yang diduga paling luas penyebarannya di dunia, di beberapa negara di dunia dikenal dengan istilah “demam urine tikus”. 

Leptospirosis tersebar di seluruh dunia, dengan perkiraan kejadian tahunan sebesar 1,03 juta kasus dan 58.900 kematian. Insiden yang tinggi ditemukan di negara dengan iklim tropis dan subtropis, khususnya di negara-negara kepulauan dengan curah hujan dan potensi banjir yang tinggi. 

Oleh sebab sulitnya diagnosis klinis dan ketiadaan alat diagnostik banyak kasus leptospirosis yang tidak terlaporkan. Faktor lemahnya surveilans, keberadaan reservoir dengan tingginya populasi tikus dan kondisi sanitasi lingkungan yang jelek dan kumuh akibat banjir, merupakan faktor-faktor penyebab terjadinya kasus leptospirosis.

Baca Juga: Ayo Kenali Apa itu Malaria: Gejala, Pencegahan dan Pengobatan

Binatang Pembawa Bakteri Leptospira

Tikus adalah sumber utama penular leptospirosis
Tikus adalah sumber utama penular leptospirosis kemenkes

Di Indonesia, tikus adalah sumber utama penular leptospirosis (jenis tikus : suncus murinus, mus musculus, rattus norvegicus, bandicota indica),  dan binatang lainnya anjing, babi, sapi, kambing.

Cara Penularan

Leptospirosis ditularkan melalui urin binatang yang mengandung bakteri leptospira, yaitu melalui invasi mukosa atau kulit yang tidak utuh. Infeksi dapat terjadi dengan kontak langsung atau melalui kontak dengan air (sungai, danau, selokan, lumpur atau tanah yang tercemar/terkontaminasi bakteri Leptospira. 

Penyakit ini  berkembang di alam, diantara hewan baik liar maupun domestik, dan manusia menjadi host yang merupakan infeksi akhir atau terminal, karena belum terlaporkan infeksi dari manusia ke manusia. 

Gejala Leptospirosis dan Masa Inkubasi

Gejala klinis : demam ≥ 38⁰ C, sakit kepala, badan lemah, nyeri betis hingga kesulitan berjalan, conjunctival suffusion (kemerahan pada selaput putih mata), kekuningan (ikterus) pada mata dan kulit,  pembesaran hati dan limpa, dan ada tanda-tanda kerusakan pada ginjal. Masa inkubasi antara 2-30 hari, rata-rata berlangsung 7-10 hari.

Halaman:

Editor: Agustiar

Sumber: kemenkes.go.id


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah